Perkembangan pembangunan di Kepulauan Nias yang sangat pesat pasca gempa tahun 2005 yang lalu ternyata tidak merata. Meskipun sudah dimekarkan menjadi 5 kabupaten/kota, namun ternyata Kota Gunungsitoli masih menjadi pusat dari seluruh Kepulauan Nias. Mesti kita akui, Kota Gunungsitoli menjadi pusat kegiatan masyarakat di Kepulauan Nias. Misalnya dalam hal pendidikan, meskipun sekolah-sekolah telah tersebar di seluruh kabupatan/kota, namun ternyata sekolah-sekolah di wilayah kota Gunungsitoli masih menjadi favorit orangtua dan murid. Namun semua ini tidak didukung oleh prasarana dan sarana yang memadai.
Para pelajar yang bersekolah di Gunungsitoli, ternyata tidak semuanya berasal dari Kota Gunungsitoli tetapi juga berasal dari kabupaten lain. Memang sebagian dari pelajar kabupaten Nias yang lain ada yang kost di sekitar sekolah mereka. Namun tidak sedikit juga yang pulang pergi ke rumah masing-masing. Selain karena (mungkin) masalah biaya, mungkin juga karena orangtua para pelajar ini takut akan pergaulan remaja jaman sekarang yang sangat memprihatinkan.

Jadi bayangkan berapa jauhnya para pelajar ini menempuh perjalanan menuju dan pulang sekolah bisa dibayangkan jika mereka berasal dari kecamatan Gido, Bawolato, Lotu, Alasa dan lainnya. Kami sering menemukan para pelajar yang bertempat tinggal di Gido dan bersekolah di salah satu SMK di kota Gunungsitoli yang kebetulan masuk pagi, mereka harus berangkat jam 5 pagi dari rumah mereka. Karena mereka harus menunggu angkutan umum (angkot) yang jarang ada. Kalaupun ada, mereka harus berdesak-desakan bahkan tidak jarang harus bergelantungan atau duduk di atas atap mobil. Hal yang sangat berbahaya.
Meski bertaruh nyawa, namun para pelajar ini tetap semangat untuk bersekolah. Sangat memprihatinkan sebenarnya, mengingat sekolah-sekolah telah tersebar di seluruh kabupaten, namun mungkin karena gengsi atau kualitas maka meskipun mereka jauh namun mereka tetap memilih bersekolah di kota Gunungsitoli.
Hal ini telah terjadi bertahun-tahun, dan tidak ada sedikit pun perhatian dari pemerintah untuk mengatasi resiko perjalanan para pelajar ini. Jumlah angkutan yang sangat sedikit, membuat para pelajar ini pulang pergi harus berdesak-desakkan hingga membahayakan jiwa mereka dengan bergelantungan atau duduk di atas atap mobil. Daripada peduli dengan hal ini, pemerintah daerah malah sibuk mencari keuntungan dengan menggunakan uang rakyat ke hal-hal lain. Mungkin kita masih ingat dulu, berapa milyar uang rakyat dirugikan pada penyertaan modal pesawat RIAU AIRLINES yang sampai sekarang ga jelas.
Memang, kerjasama antara pemerintah daerah Kabupaten Nias, Nias Utara, Nias Barat, Nias Selatan dan Kotamadya Gunungsitoli masih sangatlah kurang. Namun sampai kapan hal ini terjadi ? Apakah kita harus menunggu jatuhnya puluhan atau bahkan ratusan pelajar baru mata pemerintah akan terbuka ?


