Pilkada Sumut masih 5 bulan lagi tepatnya 7 Maret 2013. Namun para calon-calon bakal calon Gubernur dan Calon Gubernur sudah mulai tebar pesona mulai dari beberapa bulan yang lalu. Begitu juga di kepulauan Nias, berbagai atribut seperti spanduk dan poster telah banyak “menyampahi” pinggir-pinggir jalan yang berpusat di bekas Hotel Gomo depan Lapangan Merdeka Gunungsitoli. Berbagai gaya dipampang demi menarik minat yang melihat.

Semua itu dilakukan demi pencitraan, eperti seorang Calon Bakal Calon Gubernur yang berani memasang kata-kata : “Mau Sumut Bersih, pilihlah xxxxxxxx” atau dengan lebaynya memasang kalimat “Pilihlah xxxxxx adik dari almarhum xxxxx” (mantan gubernur sumut). Kami sendiri hanya tertawa membaca iklan-iklan para manusia yang nafsu akan kekuasaan ini. Permainan kata demi kata dituliskan meski tidak semua beti, hinggga memanfaatkan isu agama pun dilakukan. Pembentukan opini publik memang sangat penting meski terkesan membodohi masyarakat. Tapi itu urusan belakangan, yang penting dikenal dulu. Yang paling menggelikan ketika melihat poster seorang calon yang mengenakan baju adat Nias demi menarik simpati, meski saya sendiri yakin kalau terpilih kelak mana mau mikirkan masyarakat Nias.
Meski baru sebatas Calon dari Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumut, namun para kandidat ini telah mengeluarkan uang puluhan bahkan hingga ratusan juta rupiah. Bayangkan saja berapa harga Poster seukuran raksasa hingga Spanduk yang jumlahnya mencapai ratusan hingga ribuan. Belum menjadi calon saja sudah harus mengeluarkan uang segitu, apalagi kalau nanti sudah benar-benar jadi Calon Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara. Yang jadi pertanyaan sekarang adalah, bagaimana mereka jika tidak lolos calon hahahaha…. Harus kita akui, dengan sistim pemilihan saat ini, seseorang harus mengeluarkan banyak uang untuk menjadi kandidat dalam pilkada. Tapi bayangkan, ketika seorang Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih maka tugas pertama mereka bukan memikirkan bagaimana mensejahterakan rakyat, tapi bagaimana mengganti uang yang telah dikeluarkan selama pemilihan. Apa gaji seorang Gubernur dan Wakil Gubernur selama 5 tahun cukup menutupinya.
Seorang pemimpin hasil pencitraan dengan dana yang luar biasa memang sangat membahayakan, dan kita sebenarnya telah sadar akan hal itu. Karena kita sudah tahu bagaimana kepempimpinan seseorang hasil pencitraan. Harapan kami, pilihlah calon pemimpin bukan dari pencitraannya, bukan dari janji-janji yang manis, bukan dari tutur kata yang sopan di depan umum, bukan dari berapa dia membayar untuk memilih dia. Harus kami akui, saat ini kita memang sangat sulit untuk memilih, namun walaupun begitu tetaplah gunakan hak pilih dalam Pilkada SUMUT 7 Maret 2013 nanti. Lalu harus milih siapa? PILIHLAH SESUAI DENGAN KATA HATI.


