Perkembangan di Kepulauan Nias memang sangat pesat akhir-akhir ini. Namun perkembangan itu tidak diiringi dengan kebijakan pemerintah yang maksimal dan juga kesadaran masyarakat akan perkembangan pembangunan. Sifat-sifat keegoisan yang lebih memikirkan diri sendiri daripada kepentingan umum masih sering kita temui di dalam keseharian. Informasi Nias kali ini ingin menyampaikan betapa sembrawutnya situasi lalu lintas di Gunungsitoli akibat kurangnya kesadaran akan pentingnya kepentingan umum.
Seperti kita ketahui kota Gunungsitoli dibelah oleh Sungai Nou dan ada tiga buah jembatan yang menghubunginya, yaitu di Mudik, di dekat bekas Hotel Beringin dan di dekat Pasar Yaahowu. Saat ini jembatan kedua sedang diperbaiki sehingga jembatan ketiga dekat pasar Yaahowu menjadi alternatif utama masyarakat. Bisa dibayangkan volume lalulintas yang melintasi jembatan tersebut.
Namun, sangat disayangkan hampir sepanjang hari apalagi di jam-jam sibuk seperti jam masuk sekolah/kantor dan jam pulangnya kemacetan yang bukan main melanda jalanan di sekitar jembatan tersebut. Dari siang hingga menjelang malam, kemacetan berawal dari sekitar Klinik Sehat hingga berpuncak di depan pasar Luaha dan Yaahowu.
Kemacetan ini dikarenakan akibat banyaknya penjual ikan yang lebih memilih berjualan di pinggir jalan depan pasar Luaha dan Pasar Yaahowu tanpa memikirkan akibat dari perbuatan mereka. Ditambah lagi, tindakan para pengguna mobil dan sepeda motor yang berbelanja dan seenaknya berhenti bahkan memarkirkan kendaraannya di jalan utama menuju jembatan Nou bawah tersebut. Padahal ruas jalan ini merupakan satu-satunya ruas jalan menuju jembatan penghubung di dalam kota Gunungsitoli Nias. Jembatan yang lain yang berada di Mudik cukup jauh sehingga masyarakat lebih memilih ruas jalan pasar Yaahowu ini.
Aparat kepolisian pun tidak banyak membantu, karena mereka lebih memilih berjaga di simpang jalan kelapa untuk mencari-cari para pengendara sepeda motor yang tidak memakai helem dan tidak menggunakan spion. Demikian juga petugas dinas LLAJR yang justru sering membiarkan mobil-mobil dan sepeda motor terparkir di jalanan yang menambah kemacetan.
Lalu siapa yang harus bertanggung jawab dalam hal ini? Apakah para pedagang yang berjualan seenaknya tanpa memikirkan akan menimbulkan kemacetan? Atau para pembeli yang seenaknya memarkirkan dan meninggalkan kendaraan mereka di jalanan sehingga mempersempit jalan yang sudah sempit? Ataukah pemerintah dan aparat yang tidak bisa tegas dan cenderung membiarkan masalah ini terus menerus terjadi ? Silahkan dijawab sendiri.





